Penerapan AI dalam digital marketing bukan lagi hal baru. Banyak pelaku bisnis mulai menggunakan tools AI untuk mempercepat pembuatan konten, riset kata kunci, hingga penjadwalan posting.
Sayangnya, sering kali hasil yang diperoleh tidak sesuai ekspektasi. Engagement tetap rendah, konversi minim, dan branding tidak terasa kuat.
Berikut ini 5 Kesalahan Umum dalam Menggunakan AI untuk Digital Marketing, Lengkap dengan Solusi yang Efektif

- Memilih Tools karena Tren
Salah satu kesalahan umum yang sering terjadi adalah memilih tools hanya karena viral. Dalam digital marketing, tersedia beberapa tools seperti ChatGPT dan chatbot.
Banyak yang tergoda menggunakan platform tanpa mengevaluasi apakah tools tersebut sesuai dengan kebutuhan bisnisnya.
Misalnya sebuah brand lokal fashion yang menggunakan AI untuk pembuatan video promosi karena tren reels sedang naik. Padahal, masalah utama mereka terletak di copywriting yang kurang menjual. Hasilnya, video promosi terlihat bagus, tapi pesannya kurang kuat dan tidak menghasilkan penjualan.
Lalu Bagaimana Solusinya?
Mulailah dari masalah yang ada. Apakah Anda kesulitan mengembangkan ide konten? butuh mempercepat desain, menulis caption, atau menganalisis data kampanye? Identifikasi kebutuhan utama, lalu pilih tools yang menjawab kebutuhan tersebut. Bukan yang sekadar ramai dibicarakan.
Sehingga, Anda perlu memahami terlebih dahulu fungsi dan manfaat dari masing-masing tools sebelum menggunakannya.
Selain itu, pastikan alat yang dipilih juga memenuhi standar keamanan serta menjaga privasi data pengguna sesuai regulasi yang berlaku.
- Ekspektasi Instan
Pelaku bisnis yang baru menggunakan AI, biasanya berekspektasi mendapatkan hasil bagus tanpa banyak input. Padahal, alat tersebut bekerja berdasarkan perintah atau prompt yang kita berikan.
Tanpa strategi, hasilnya akan terlihat umum dan ‘kering’. Sehingga, tidak sesuai dengan kebutuhan brand.
Misalnya, tim marketing sebuah kafe meminta AI membuat 30 caption untuk satu bulan ke depan. Hasilnya? Semua caption terdengar sama, tidak punya karakter, bahkan terlihat kurang menarik.
Lalu Bagaimana Solusinya?
AI merespons sesuai instruksi yang Anda berikan, semakin detail dan berkualitas perintahnya, semakin tepat dan relevan pula hasil yang diperoleh.
Sehingga, hindari meminta 30 caption sekaligus. Bagi kebutuhan berdasarkan content pillar, lalu tambahkan detail seperti gaya bahasa atau tone of voice.
Tambahkan juga karakter brand ke dalam prompt, bisa berupa contoh caption sebelumnya atau penjelasan singkat tentang gaya komunikasi yang diinginkan. Pendekatan ini memungkinkan AI memahami apa yang ingin disampaikan dalam konten.
Setelah mendapatkan hasil, evaluasi kembali dan lakukan revisi bila perlu. AI bukan pengganti otak manusia, melainkan alat bantu yang strategis jika diarahkan dengan benar.
- Tidak Sesuai Identitas Brand
AI dapat menghasilkan konten dengan cepat, namun tidak bisa memahami brand voice secara langsung.
Jika tidak diarahkan, outputnya cenderung netral dan hambar. Hal ini dapat merusak tone of voice yang sudah dibangun oleh brand Anda.
Misalnya, sebuah brand skincare terbiasa menggunakan bahasa kasual dan bersahabat, tiba-tiba memposting konten yang terlalu kaku seperti brosur. Ternyata, caption tersebut dibuat menggunakan AI tanpa arahan yang spesifik.
Lalu Bagaimana Solusinya?
Pastikan menulis informasi tentang gaya bahasa dan persona brand ke dalam prompt. Misalnya: “Buat caption promosi dengan gaya santai dan akrab, seperti berbicara dengan teman dekat.”
Selanjutnya, jangan lewatkan tahap editing agar output AI tetap sesuai dengan tone brand Anda.
- Kurang Memahami Target Audiens
Menggunakan AI tanpa memahami siapa target audiens Anda bisa menghasilkan konten yang tidak nyambung, bahkan merusak kesan brand. Kesalahan ini sering terjadi, terutama konten untuk media sosial.
Misalnya, sebuah brand skincare menggunakan AI untuk caption Instagram. Namun karena tidak memberi arahan yang jelas mengenai audiens, AI justru membuat kalimat yang terlalu serius dan teknis.
Padahal, target brand ini adalah perempuan muda yang aktif di media sosial dan menyukai gaya bahasa ringan, santai, serta penuh rasa percaya diri. Akibatnya, konten terasa kaku dan tidak ada koneksi emosional.
Lalu Bagaimana Solusinya?
Jangan hanya fokus pada isi yang ingin disampaikan, tetapi untuk siapa konten tersebut. Saat menulis prompt, sertakan informasi seperti usia, minat, dan gaya komunikasi audiens Anda.
Misalnya seperti ini, “Buat caption promosi serum wajah dengan gaya santai dan percaya diri, ditujukan untuk perempuan usia 20–30 tahun yang aktif di media sosial dan peduli dengan self-care.”
Semakin spesifik perintah yang diberikan, maka semakin besar peluang AI menghasilkan konten yang relevan dan personal.
- Tidak Mengevaluasi Hasil
Menggunakan konten dari hasil AI tanpa mengevaluasi efektivitasnya merupakan kesalahan umum yang sering terjadi pada pemula.
Padahal, strategi digital marketing yang baik adalah melakukan evaluasi berkala pada semua konten yang dibuat, baik buatan manusia maupun AI.
Misalnya, sebuah bisnis F&B memposting konten buatan AI selama dua bulan. Tapi mereka tidak pernah mengecek metrik performanya.
Setelah diperiksa, ternyata engagement menurun drastis karena gaya bahasa konten tidak relate dengan audiens lama.
Solusi yang Tepat
Pantau performa setiap konten AI dengan metrik seperti likes, saves, comments, dan reach.
Selanjutnya, Anda bisa melakukan A/B testing untuk membandingkan performa konten buatan AI dengan versi yang disempurnakan tim. Dari situ, Anda dapat memperbaiki prompt dan strategi konten ke depannya.
Menggunakan AI dalam digital marketing bisa menghemaat banyak waktu dan sangat membantu, hanya jika Anda tahu cara menggunakannya.
Hindari lima kesalahan umum di atas agar tools yang Anda pakai tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga memberi hasil yang terbaik.
Sudah menggunakan AI tapi hasilnya belum maksimal? Konsultasikan bersama tim kami dan temukan strategi yang tepat untuk brand Anda.